Virus Nipah; Reservoir Kelelawar Buah Hingga Pemusnahan Babi
Ilustrasi kelelawar buah. Gambar: Unsplash/Mel Poole

Virus Nipah; Reservoir Kelelawar Buah Hingga Pemusnahan Babi

Virus Nipah (NiV) merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, dari makanan yang terkontaminasi dan dari manusia ke manusia. Infeksi NiV pada manusia menyebabkan infeksi asimtomatik hingga penyakit pernafasan akut dan ensefalitis fatal pada manusia. Pada hewan, infeksi tersebut menyebabkan penyakit parah pada babi dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak.

Wabah

Penyakit akibat NiV pertama kali muncul di Malaysia pada tahun 1998, menyebabkan wabah pada babi di peternakan dan menyerang manusia dengan tingkat kematian 40 – 75%. Namun tingkat kematian dapat berbeda di tiap daerah tergantung kemampuan dalam melakukan surveilans epidemiologi dan manajemen kesehatannya.

NiV merupakan penyakit zoonosis yang potensial dan strategis dan salah satu penyakit lintas batas di Asia. Kelelawar yang berordo Chiroptera adalah salah satu jenis mamalia yang memiliki kemampuan jelajah terbang yang tinggi. Memiliki hampir 1.000 spesies, ordo Chiroptera menempati urutan kedua terbesar yang hidup di dunia. Subordo Megachiroptera merupakan kelelawar pemakan buah, dan telah menjadi perhatian dunia terkait dengan penyakit zoonosis. Diketahui, reservoir alami dari NiV adalah kelelawar buah, yang hidup tersebar hampir di seluruh dunia.

Sebanyak 60 jenis virus dilaporkan berhubungan dengan kelelawar, termasuk Corona, Hendra dan Nipah (kelompok Paramyxovirus), dan 59 diantaranya merupakan virus RNA yang berpotensi menyebabkan penyakir emerging dan re-emerging pada manusia.

Saat pertama kali wabah NiV terdeteksi di Malaysia, Singapura juga menemukan kasus serupa pada pekerja peternakan babi. Salah satu langkah yang dilakukan dalam menghentikan penyebaran wabah saat itu, dengan melakukan pemusnahan babi lebih dari satu juta ekor. Tentu saja, pemusnahan tersebut memberikan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Malaysia, namun sejak saat itu, tak ditemukan kasus baru. Hingga saat ini, tidak ada kasus (baik pada babi maupun manusia) yang dilaporkan oleh Malaysia dan Singapura.

Gejala, Diagnosis dan Pencegahan

Infeksi pada manusia bervariasi, dari yang tanpa gejala hingga infeksi saluran nafas akut (ringan dan berat) dan ensefalitis fatal. Orang yang terinfeksi, awalnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah dan sakit tenggorokan. Kemudian gejala bertambah dengan kantuk, pusing, kesadaran menurun, dan tanda neurologis yang menunjukkan ensefalitis akut.

Beberapa orang juga ada yang mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernafasan, sedangkan pada kasus yang parah biasanya terjadi ensefalitis dan kejang, kemudian menjadi koma dalam waktu 24 – 48 jam. Kebanyakan orang yang selamat dari ensefalitis sembuh total, tetapi ada yang memiliki kondisi neurologis jangka Panjang pada pasien yang sembuh. Sekitar 20% pasien akan mengalami kondisi neurologis residual (kejang) dan perubahan kepribadian. Beberapa yang sembuh, akan mengalami kekambuhan.

Sejak infeksi hingga timbul gejala diyakini berkisar antara 4 hingga 14 hari, tetapi ada juga laporan periode inkubasi selama 45 hari. Gejala NiV yang tidak spesifik, menyebabkan diagnosis tidak akurat, sehingga sulit dalam pengendalian infeksi dan respon saat wabah.

Infeksi virus dapat didiagnosis melalui riwayat klinis selama fase penyakit akut. Tes utama yang digunakan dalam diagnosis adalah RT-PCR dari cairan tubuh dan deteksi antibodi menggunakan uji ELISA.  

Infeksi NiV dapat dicegah dengan menghindari hewan (terutama babi dan kelelawar) yang sakit di daerah endemis, dan menghindari konsumsi kurma mentah. Berdasarkan pengalaman wabah sebelumnya, pembersihan dan desinfeksi peternakan babi yang efektif, dapat mencegah infeksi.

Referensi :

  1. WHO. Nipah Virus. 2018.
  2. Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian. Nipah.
  3. CDC. Nipah Virus. 2014.
  4. Rampengan, NH. Virus Nipah. 2016.  Jurnal Biomedik Vol 8 No 2.

Leave a Reply

Close Menu