Bell’s Palsy: Kelumpuhan Wajah yang Umum
Gambar: harvard edu

Bell’s Palsy: Kelumpuhan Wajah yang Umum

Bell’s Palsy yang juga dikenal sebagai idiopathic facial pasly, merupakan bentuk kelumpuhan atau kelemahan wajah sementara di satu sisi wajah. Hal ini terjadi akibat saraf kranial VII (saraf wajah) tidak berfungsi dalam mengarahkan otot di satu sisi wajah, termasuk otot yang mengontrol kedipan dan penutupan mata, serta ekspresi wajah seperti tersenyum.

Terdapat 12 pasang saraf kranial/saraf wajah, yang diidentifikasi dengan angka romawi. Saraf wajah juga membawa impuls saraf menuju kelenjar air mata, air liur, dan otot tulang kecil di telinga tengah. Saraf ini juga yang mengirimkan sensasi rasa dari lidah.

Kelumpuhan wajah umumnya merupakan Bell’s palsy, meski penyebabnya belum diketahui pasti. Biasanya hanya mempengaruhi satu sisi wajah, tetapi dalam kasus yang jarang, bisa mempengaruhi kedua sisi. Gejalanya muncul tiba-tiba selama periode 48-72 jam dan umumnya membaik dengan atau tanpa pengobatan setelah beberapa minggu, dengan pemulihan beberapa atau semua fungsi wajah dalam waktu enam bulan. Dalam beberapa kasus, menyisakan kelemahan otot yang berlangsung lebih lama atau permanen.

Gejala

Telah dikatakan sebelumnya, bahwa gejala Bell’s palsy datang secara tiba-tiba, yang berupa :

  • Serangan yang cepat dari kelemahan wajah ringan hingga kelumpuhan total di satu sisi, terjadi beberapa jam hingga hari
  • Wajah terkulai dan sulit membuat ekspresi, seperti menutup mata atau tersenyum.
  • Berliur
  • Nyeri sekitar rahang atau di dalam atau di belakang telinga pada sisi yang terkena.
  • Pada sisi yang terkena, akan peka terhadap suara.
  • Sakit kepala
  • Air mata atau air liur yang berlebihan

Pada 8 dari 10 orang, gejala mulai membaik sekitar 3 minggu, dan akan hilang dalam waktu 2-3 bulan. Beberapa gejala mungkin tetap ada, seperti sedikit kelumpuhan wajah atau gerakan berkurang di satu sisi wajah. Sekitar 2 dari 10 orang, merasakan gejala yang tidak pernah hilang.

Penyebab

Meski penyebabnya belum diketahui, seringnya hal ini dikaitkan dengan infeksi virus. Virus yang umum dikaitkan adalah yang dapat menyebabkan :

  • Herpes genital (herpes simpleks)
  • Cacar air dan herpes zoster
  • Infeksi Mononucleosis (Epstein Barr)
  • Infeksi sitomegalovirus
  • Penyakit pernapasan (adenovirus)
  • Campak jerman (rubella)
  • Gondongan
  • Flu (influenza B)
  • Hand, Foot and Mouth Diseases

Saraf kranial VII akan terlihat membengkak dan meradang pada orang yang mengalami Bell’s palsy. Para peneliti percaya bahwa infeksi virus yang tadinya dorman, dan aktif kembali dapat menyebabkan hal tersebut.

Faktor risiko

Bell’s palsy dapat menyerang siapa saja, dari semua jenis kelami dan umur. Namun angka kejadiannya tampak paling tinggi pada orang yang berumut 15 hingga 45 tahun. Faktor risikonya termasuk kehamilan, preeklamsia, obesitas, hipertensi, diabetes dan penyakit pernapasan bagian atas.

Pengobatan

Sebenarnya tidak ada pengobatan untuk Bell’s palsy, dalam banyak kasus kondisi ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Namun, dokter mata akan membantu mengelola gejala yang mempengaruhi mata. Tetes mata dan pelumas lainya akan diberikan jika mata tidak bisa menutup sempurna. Pada beberapa kasus, kortikosteroid, antivirus atau obat lain mungkin diresepkan untuk penyembuhan dari Bell’s palsy.

Referensi :

  1. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Bell’s Palsy Fact Sheet. 2020.
  2. Mayo Clinic. Bell’s Palsy.
  3. American Academy of Opthalmology. Bell’s Palsy Treatment. 2020.

Leave a Reply

Close Menu