Antioksidan Alami Bantu Tubuhmu Perangi Radikal Bebas
Ilustrasi antioksidan alami. Foto: Brenda Godinez

Antioksidan Alami Bantu Tubuhmu Perangi Radikal Bebas

Tubuh kita merupakan medan pertempuran dalam berperang melawan infeksi dan penyakit. Dalam menjalankan fungsinya, seperti bernafas atau aktivitas fisik dan gaya hidup seperti merokok, tubuh kita menghasilkan zat yang disebut radikal bebas. Zat ini menyerang sel sehat, dan saat sel melemah akan rentan terkena penyakit seperti kardiovaskuler dan beberapa jenis kanker. Antioksidan membantu melindungi sel tubuh yang sehat dari kerusakan akibat radikal bebas.

Radikal Bebas

Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang terbentuk secara alami pada tubuh ketika berolahraga dan saat mengubah makanan menjadi energi. Namun radikal bebas juga bisa berasal dari lingkungan seperti asap rokok, polusi, dan sinar matahari.

Radikal bebas menyebabkan stres oksidatif, yaitu proses yang memicu kerusakan sel. Stres oksidatif diduga berperan dalam berbagai penyakit seperti kanker, kardiovaskuler, diabetes, Alzheimer, parkjinson, katarak dan degenerasi macula terkait usia. Molekul antioksidan telah terbukti menangkal stress oksidatif dalam uji lab (pada studi sel atau hewan).

Antioksidan

Dalam tubuh, radikal bebas berperan sebagai ‘pencuri’ elektron dari sel terdekat yang menghasilkannya. Pencurian elektron ini, dapat mengubah struktur atau fungsinya. Kerusakan radikal bebas dapat mengubah instruksi kode dalam untaian DNA.

Antioksidan bekerja dengan memberikan elektron kepada radikal bebas tanpa harus berubah menjadi pencuri elektron. Selain itu, antioksidan juga terlibat dalam mekanisme memperbaiki DNA dan menjaga kesehatan sel.

Terdapat ratusan bahkan ribuan zat yang dapat bertindak sebagai antioksidan. Antioksidan yang paling umum kita ketahui diantaranya vitamin C, E, beta karoten bersama mineral lain seperti selenium dan mangan. Antioksidan lainnya seperti glutathione, koenzim Q10, asam lipoat, flavonoid, fenol, polifenol, fitoestrogen dan masih banyak lagi. Sebagian besar terbentuk secara alami, dan keberadaannya pada makanan cenderung sebagai pencegah oksidasi atau berfungsi sebagai pertahanan alami terhadap lingungan setempat. Selain antioksidan yang terdapat dalam makanan/alami, ada pula antioksidan buatan dalam bentuk suplemen makanan.

Antioksidan Alami

Studi prospektif epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi buah, sayur, dan polong yang kaya antioksidan dalam jumlah besar berkaitan dengan risiko penyakit kronis yang rendah terkait stress oksidatif seperti pada penyakit kardiovaskuer, kanker dan kematian.

Diet buah dan sayur dipercaya melindungi tubuh dari penyakit kronis yang berkaitan dengan stress oksidatif. Namun, masih belum jelas apakah perlindungan tersebut disebabkan oleh antioksidan, zat lainnya dalam makanan atau kombinasi keduanya. Berikut ini adalah sumber makanan yang memiliki aktivitas antioksidan :

  • Vitamin C : Brokoli, kubis Brussel, blewah, kembang kol, jeruk Bali, sayuran berdaun hijau (lobak, mustard, bit dan collard), melon, kale, kiwi, lemon, jeruk, pepaya, kacang polong salju, stroberi, ubi, tomat, paprika (Semua warna).
  • Vitamin E : Almond, alpukat, Swiss chard, sayuran berdaun hijau, kacang tanah, paprika merah, bayam, hazelnut, minyak kedelai, jagung, kanola, dan biji bunga matahari.
  • Karotenoid termasuk beta karoten dan likopen : Aprikot, asparagus, bit, brokoli, blewah, wortel, paptika, kangkung, manga, lobak dan sawi hijau, jeruk, persik, jeruk bali merah muda, labu kuning, bayam, ubi jalar, jeruk keprok, tomat, dan semangka.
  • Selenium : Kacang Brazil, ikan, kerang, daging sapi, unggas, gandum, beras merah, pasta, roti, jagung, nasi, gandum, kalkun, telur, dan keju.
  • Seng : Daging sapi, unggas, tiram, udang, biji wijen, biji labu, buncis, lentil, kacang mede, sereal yang difortifikasi.
  • Senyawa fenolik: Kuersetin ( apel, anggur merah, bawang merah), katekin (teh, coklat, beri), resveratrol (anggur merah dan putih, anggur, kacang, beri), asam coumaric (rempah-rempah beri), antosianin (bluberi, stroberi).

Suplemen antioksidan tak lebih baik dari sumber alami

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang asupan buah dan sayur kaya antioksidan berisiko tinggi untuk mengalami penyakit kronis dibanding orang yang banyak mengonsumsinya. penelitian lainnya menguji dampak zat tunggal berbentuk suplemen dalam melawan penyakit kronis.

Hasil penelitian ini beragam, namun sebagian besar tidak ditemukan manfaat yang diharapkan. Namun hasil yang sebagian besar mengecewakan ini, tidak membuat industri suplemen berhenti. Antioksidan masih terus digemborkan dalam bentuk suplemen, makanan yang difortifikasi, minuman energi, biscuit olahraga, sereal sarapan dengan menambahkan promosi bahwa produk tersebut dapat mencegah penyakit jantung, kanker, katarak, alzeimer dan kondisi lain.

Meski benar bahwa antioksidan bersama dengan mineral, serat dan zat lain yang ditemukan secara alami pada buah, sayur dan biji-bijian, membantu mencegah berbagai penyakit kronis, tetapi bukan berarti dosisi tinggi suplemen antioksidan akan memberikan prestasi yang sama.

Salah satu kemungkinan yang menjadi alasan mengapa banyak penelitian suplemen antioksidan tidak menunjukkan manfaat kesehatan, karena antioksidan cenderung bekerja dengan baik dalam kombinasi nutrisi lainnya, bahan kimia tanaman dan bahkan antioksidan lain.

Misalnya, secangkir stroberi segar mengandung sekitar 80 mg vitamin C. Tetapi suplemen yang mengandung 500 mg vitamin C, tidak mengandung polifenol yang secara alami ditemukan pada stroberi seperti proantosianin dan flavonoid, yang juga memiliki aktivitas antioksidan dan bisa bekerja sama dengan vitamin C untuk melawan penyakit.

Perbedaan jumlah dan jenis antioksidan dalam makanan dibanding komposisi suplemen juga dapat mempengaruhi efeknya. Misalnya, vitamin E memiliki 8 bentuk kimia yang ditemukan alami pada makanan. Sedangkan vitamin E pada suplemen makanan biasanya hanya satu bentuk, yaitu alfa tokoferol.

Inilah yang menjadi sebab, mengapa menggunakan suplemen antioksidan dengan zat tunggal mungkin bukanlah strategi yang efektif bagi semua orang.

Referensi :

  1. Academy of Nutrition and Dietetics. Antioxidants – Protecting Healthy Cells. 2020.
  2. National Center for Complementary and Integrative Health. Antioxidants: In Depth. 2013.
  3. Harvard School of Public Health. Antioxidants.
  4. American Academy of Family Physicians. Antioxidants – What You Need to Know. 2017.

Leave a Reply

Close Menu